Kebebasan Berbicara di Era digital

Kebebasan Berbicara di Era Digital

Part I

Pada tanggal 15 Juli 2020, saya diminta menjadi narasumber pada kegiatan Literasi Digital yang diadakan oleh Kominfo. Tema pada seminar tersebut adalah Kebebasan Berbicara di Era Digital, berikut materi yang saya sampaikan pada seminar tersebut, liputan kegiatan tersebut bisa dilihat pada link ini.

Sejarah Kebebasan Berbicara.

Membicarakan Kebebasan berbicara, ini terkait dengan Hak Azasi Manusia yang didapatkan manusia semenjak dia lahir.  Hak ini sudah dikenal dari zaman dahulu, tercatat bangsa Yunani ( Abad 5 SM) mengenal hak ini dengan nama “parrhesiaa” atau dalam bahasa Inggris di terjemahkan bebas dengan istilah ” free speech“.

Kata parrhesia [παρρησία] muncul pertama kali dalam sastra Yunani, lebih tepatnya dalam karya Euripides [c.484-407 SM]. Selanjutnya, istilah ini banyak digunakan dalam jagat sastra Yunani dari akhir abad ke-5 SM. Namun, parrhesia juga masih bisa ditemukan dalam teks patristic yang ditulis pada akhir abad ke-4 dan ke-5 M—berulangkali digunakan misalnya dalam karya-karya Jean Chrisostome [345-407 M]§

Secara etimologis, parrhesia berasal dari bahasa Yunani, “pan” (segala hal) dan “rhema” (apa yang dikatakan). Dalam penggunaan umum, kata ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai free speech, “tuturan bebas/merdeka.” Berangkat dari makna tersebut, parrhesiastes dimaknai sebagai seseorang yang berani “mengatakan semua yang ada di benaknya, tidak menyembunyikan apapun, tetapi membuka hati dan pikirannya secara menyeluruh untuk orang lain melalui wacananya.” Dalam parrhesia, penutur diharapkan menyampaikan dan memberikan secara menyeluruh dan jujur apa-apa yang ia punyai dalam benak sehingga pendengarnya bisa memahami secara tepat apa yang ia pikirkan. Dengan demikian, parrhesia  bukanlah sekedar bentuk tuturan, tetapi merujuk kepada tipe hubungan antara penutur dan apa yang ia katakan karena penutur membuat apa-apa yang ia tuturkan dalam opininya sejelas dan sejernih mungkin.§

Ide mengenai kebebasan berbicara ini terus dilanjutkan sampai abad pertengahan,  tertuang dalam Magna Charta (1215)  meskipun sebenarnya tidak secara langsung menyebut secara langsung terkait hak berbicara Magna Charta setidaknya sebagai landasan hak-hak sipil di Kerajaan Inggris Raya dan menjadi dasar bagi berlakunya Bill of Rights 400 tahun kemudian§ ,  Bill Of Rights (1689) menjadi dokumen mengenai kebebasan berbicara yang sudah terkodifikasi dalam hukum, memuat kebebasan berbicara didalam parlemen. Bill of Rights menjadi landasan dunia Barat dalam merumuskan kebebasan berbicara, salah satunya Perancis yang merumuskannya kedalam konstitusinya setelah revolusi perancis pada masa renaissance dalam Declaration de l’homme et du citoyen ( The Declaration of the Rights of Man and of the Citizen)§

Kemerdekaan Amerika Serikat membawa semakin kuatnya kebebasan berbicara ( freedom of speech) sebagai hak yang diakui oleh negara , Amerika Serikat memasukkan kebebasan berbicara dalam amandemen I konstitusinya, dimasukkan kebebasan beragama, kebebasan berbicara, kebebasan pers,  dan kebebasan bersyarikat/ berkumpul ( freedom of religion, speech, the press and the right to assemble)

Indonesia sebagai negara baru juga memiliki terobosan mengenai hak ini , sehari setelah kemerdekaan 18 Agustus 1945, ditetapkannya UUD 1945 sebagai momentum pengakuan hak kebebasan berbicara di dalam konstitusi Republik Indonesia yang baru satu hari memproklamasikan kemerdekaannya, hak ini dicantumkan dalam pasal 28 Undang Undang Dasar 1945.

Pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945

Kemerdekaan  berserikat dan  berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan  lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang­-undang

Indonesia sebagai negara baru telah mengakui hak ini, bahkan lebih dahulu dibandingkan instrumen internasional yang banyak digunakan sebagai landasan hak ini yaitu Universal Declaration of Human Rights.

Universal Declaration of Human Rights. ditetapkan pada tanggal 10 Desember 1948, mencantumkan mengenai hak kebebasan berbicara dalam Pasal 19.

Article 19 UDHR

Everyone has the right to their own opinions, and to be able to express them freely. We should have the right to share our ideas with who we want, and in whichever way we choose

selanjutnya kita akan membahas mengenai kebebasan berbicara di era internet sekarang ini …( bersambung ke part II)

Presentasi lengkap bisa dilihat dibawah ini :

Presentasi Nur Rois

untuk mengutip situs ini dalam tulisan anda bisa digunakan format sebagai berikut :

Nur Rois (October 24, 2021) Kebebasan Berbicara di Era digital. Retrieved from https://nurrois.my.id/2021/07/18/kebebasan-berbicara-di-era-digital/.
"Kebebasan Berbicara di Era digital." Nur Rois - October 24, 2021, https://nurrois.my.id/2021/07/18/kebebasan-berbicara-di-era-digital/
Nur Rois July 18, 2021 Kebebasan Berbicara di Era digital., viewed October 24, 2021,<https://nurrois.my.id/2021/07/18/kebebasan-berbicara-di-era-digital/>
Nur Rois - Kebebasan Berbicara di Era digital. [Internet]. [Accessed October 24, 2021]. Available from: https://nurrois.my.id/2021/07/18/kebebasan-berbicara-di-era-digital/
"Kebebasan Berbicara di Era digital." Nur Rois - Accessed October 24, 2021. https://nurrois.my.id/2021/07/18/kebebasan-berbicara-di-era-digital/
"Kebebasan Berbicara di Era digital." Nur Rois [Online]. Available: https://nurrois.my.id/2021/07/18/kebebasan-berbicara-di-era-digital/. [Accessed: October 24, 2021]

 

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.